1 minggu menjelang keberangkatan kami menuju Makassar, perasaan risau dan khawatir terus menghantui kami. Pasalnya, kami pernah mengalami kejadian mengerikan saat menaiki penerbangan Lion dari Makassar ke Jakarta, yang membuat kami selalu tegang setiap kali memasuki proses pendaratan. Berikut ini adalah berita Televisi yang meliput kejadian kecelakaan traumatis (bagi kami) tersebut. Judul “Pesawat Lion Air Tergelincir Saat Mendarat” beserta ilustrasi/ rekonstruksi yang dibuat oleh media televisi sangat berbeda dari kenyataan, rasanya kurang akurat dan tidak terlalu menyeramkan. Karena pada kenyataanya kejadian ini SANGAT MENGERIKAN. Jikalau kamu ada di dalam persawat tersebut, niscaya kamu pasti akan menyangka diri kamu akan mati. Tapi setidaknya saya bisa masuk TV (menit ke 2:50 pada vidoe pertama).
Mohon doa nya semoga kejadian ini tidak terulang. Dan mohon doa nya supaya kami tidak akan menggunakan Lion Air kali ini.



Back From Makassar, Safely (This Time)
We went again to Makassar where the weathers are hot and foods are exotic. Last year we dissapionted Makassarian after pulling out our gig due to electrical shock accident on stage caused by rainy storm flooding the soundsystem. To pay that out, we did 2 gigs a night on 30th January. First one, at Karebosi Basket Ball Court, nearly canceled again because the rain kept falling. But it briefly stopped so we immediately went onstage for about 25 minutes and had to end the show because it went raining again and the schedule was late for one hour and half. Crowd booed the rain. Blame It On The Rain, Yeah Yeah, as Milli Vanilli once sang (or lip synced).
Then we headed straight to Liquid cafe to do another show. Crowd there was crazy, some are bit too much, but funny, and the gig was utter fun. Thank you!
Time to feed the nervous dead fish with clove fags. Fortunately, the flight back to Jakarta was smooth and we’re still alive and complete.