Australia Tour Diary – Day 16 – 15th June ‘07 – The Governor Hindmarsh, Adelaide

Tidak seperti sebelum sebelumnya, kami tidak bermain untuk membuka band Aussie favorit kami, Dallas Crane. Kali ini kami menjadi pembuka untuk band bernama Beasts of Bourbon, yang katanya cukup legendaris dan mendapat status ‘cult’ di Australia. Penampakan mereka sangatlah menyeramkan. Sang vokalis The Beasts agak-agak mirip Lemmi Motorhead, malah lebih menyeramkan. Suasana kelam dan mencekam sangat terasa sore itu di venue. Kami menanti gilirian sound check sambil mengamati Beasts of Bourbon yang terdiri dari bapak-bapak koboy berumur 40 tahunan ke atas. Mereka memiliki aura yang tidak begitu mengenakkan dan tidak bersahabat. Kami cenderung diam dan mengamati dari jauh, dari pada ngajak ngobrol basa-basi. Kenyataannya Tex Perkins, sang vokalis The Beasts tersebut memang kurang bersahabat dan sangat cuek (tidak seperti anggota Dallas Crane, seperti yang saya sebutkan sebelumnya). Bahkan anggota Children Collide (band support lainnya) pun terlihat tidak berani bertanya pada The Beasts perihal settingan drum yang ingin diubah tetapi tidak berani bertanya. Untungnya sound engineer in house venue memberitahu bahwa kami lebih baik tidak mengutak-atik settingan The Beasts karena mereka akan marah.

Malam sebelumnya, yakni tanggal 14 Juni, kami baru sampai di Adelaide dari Melbourne pada pukul 18.00. Malam itu Dallas Crane bermain di venue yang sama bersama The Bowdies, band Beatlemania dari Tokyo Jepang. Mereka memainkan musik R&B ala tahun 60′an yang fresh dan ceria. Di negara asalnya mereka cukup sukses, terbukti dengan sudah pernah bermain di Fuji Rock Festival. Saat Dallas Crane tur Jepang, The Bawdies pula lah yang menjadi supporting band. Dari penampakannya mereka sangat mirip dengan The Changcuters, tetapi musiknya berbeda sekali ya. Hehehe. Setelah berbincang sebentar dengan para anggota The Bawdies (yang terkejut saat saya ajak bicara dengan bahasa Jepang) kami pun pulang ke hotel dan istirahat.

Kembali ke tanggal 15 Juni. Malam itu penonton sangat padat di The Gov yang ukurannya cukup besar. Jika semalam sebelumnya masih ada meja restoran di pinggir venue, malam ini venue terlihat bersih dari furnitur dan penuh dengan ibu-ibu dan bapak-bapak berumur 40′an. The Beasts merupakan band lama sejak tahun ‘80an awal, jadi tidak heran jika banyak penggemarnya yang seumur dengan om-om saya. Tetapi mereka jauh lebih apresiatif dari pada om-om di Bandung. Hahaha. Malam itu tepuk tangan terdengar lebih nyaring daripada malam sebelumnya. Saking semangatnya bermain, saya memutuskan senar gitar sebanyak dua kali. Untungnya Farri juga bawa gitar spare. Jadi segalanya bisa teratasi. Seberesnya manggung kami hang out sejenak di taman luar sambil merokok dan berbincang-bincang dengan penonton yang merasa senang dengan performa kami.

Tetapi yang meyeramkan adalah ada seorang ibu-ibu (mbok-mbok mungkin kalau di konversikan ke orang Indonesia) yang tiba-tiba menghampiri saya dan memaksa membelikan minum sambil menempelkan dadanya yang segede pepaya terkena radiasi bom atom. Aduh ampun menyeramkan sekali si mbok sate Aussie itu. Untungnya saya berhasil lari sambil pura-pura mau beres-beres alat karena kami memang harus segera pergi ke venue lain utuk manggung lagi. Kelihatannya yang menjadi korban berikutnya adalah Badot. Dari kejauhan terlihat wajahnya yang ketakutan dan bingung karena tidak bisa bergerak ke mana-mana mengingat venuenya penuh.

Setelah itu kami pun langsung mengangkat peralatan menuju Rocket Bar yang berjarak sekitar 10 km dari The Gov. Rocket Bar terlihat ramai sekali karena malam itu adalah malam Sabtu dimana orang-orang baru pulang kerja dan besoknya libur. Otomatis crowd malam ini lebih liar karena mereka sudah mabuk dan butuh hiburan. Malah saya sempat melihat beberapa orang laki-laki hampir berantem karena sikut-sikutan. Setelah bermain selama kurang lebih 45 menit, kami pun hang out lagi sambil mendengarkan dan berdansa mengikuti irama lagu yang diputar di sana yang memang enak-enak. Setelah itu kami mengangkat alat-alat yang berat tersebut dan tertidur pulas. Memang harus tidur pulas karena keesokan harinya kami sudah harus segera pindah kota, ke Perth.

This entry was posted in News. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.

  • The S.I.G.I.T. Welcomes You

  • Follow Us On


  • Pages

  • News Archives

  • Upcoming Gigs

    No shows booked at the moment.

  • Listen To

    The S.I.G.I.T.
    (click to play songs)
    Money Making
    Bhang
    Midnight Mosque Song
    Only Love


  • Ask The S.I.G.I.T.